|
Mat Kodak
|
 |
« pada: Peb 08, 2010, 09:15:52 » |
|
JAKARTA, KOMPAS.com - Daniel (32) menghela nafas panjang. Perjuangannya menemukan rumah idaman untuk ditinggali bersama istrinya, Shinta (30) ternyata tidak semudah di angan. Seharian ini, Daniel memutari area Hall A Jakarta Convention Center (JCC), tempat Trend Property Expo 2010 berlangsung. Langkahnya sudah mulai lelah, namun hingga sesore ini belum ada hunian yang klop.
"Susahnya cari rumah. Begitu ada yang harganya cocok, tetapi daerahnya jauh dari kantor. Langganan banjir pula. Yang daerahnya adem, harganya selangit," tutur Daniel, saat ditemui di JCC, Minggu (7/2/2010).
Daniel berangan-angan memiliki rumah di daerah Jabodetabek yang memiliki akses gampang dan cepat ke kantornya, di Jakarta Pusat. Dia memprioritaskan mencari tempat tinggal di wilayah Depok, Jakarta Selatan, dan Tangerang. Setidaknya, kawasan tersebut dekat dengan akses seperti kereta api ekspres AC, bus AC, atau busway dengan jadwal yang fleksibel. Pasalnya, Pegawai Negeri Sipil ini mengaku saat ini tidak bisa lagi mengandalkan mobil untuk menembus kemacetan ibu kota.
Soal lainnya, dia menginginkan rumah di lokasi yang tidak banjir dan aman. Lingkungan sekitar seperti tersedianya pasar tradisional dan pusat perbelanjaan juga menjadi salah satu pertimbangannya dalam memilih hunian.
Untuk masalah desain rumah, Daniel tidak terlalu pemilih. Bagi pasangan muda itu, desain rumah yang minimalis dengan dua kamar saja sebenarnya sudah cukup. "Ya minimal dua kamar. Soalnya nanti kalau orang tua mau nginep biar gampang," tuturnya.
Sebenarnya, sejak dua minggu lalu Daniel telah melakukan survei di dua lokasi, yakni Bintaro dan Cibubur. Namun, dia menganggap harga rumah di sana terlalu mahal untuk kantongnya. Terang saja, dia hanya bekerja sebagai PNS yang gajinya masih mepet, sedangkan istrinya adalah seorang karyawan bank swasta.
Setelah 5 tahun bekerja, baru diniatkan sekarang mencari rumah. Saat ini, rasa sesal menyelimut di benak Daniel. Sebab, tahun lalu warga Senen, Jakarta ini lebih memilih kredit mobil daripada kredit rumah karena merasa belum membutuhkan hunian. Nyatanya, setelah menikah akhir tahun lalu, kebutuhan akan perumahan mulai terasa semakin mendesak.
"Dulu-dulu sih sering tergoda juga kalau teman-teman mencari rumah, tetapi karena belum terlalu butuh, saya memilih kredit mobil. Dan sekarang masih butuh 2,5 tahun lagi tuh mobil tercinta lunas. Sekarang sewaktu mulai diniatkan mencari rumah, ternyata susah banget," cetusnya. Saat ini, dia dan istrinya tinggal di rumah kontrakan di daerah Senen. Meski belum menemukan rumah yang cocok, Daniel mengaku sangat terbantu dengan adanya pameran properti ini. Setidaknya, dia menjadi mempunyai banyak referensi sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli rumah.
|